WTS Juga Manusia,punya naluri baik untuk bertobat
- Tuesday, 25 October 2011
Wawancara :
Ketua MUI Jatim: KH Abdusshomad Bukhori
“WTS Juga Manusia, Punya Naluri Baik”
Pelacuran atau prostitusi adalah salah satu cerita klasik penyakit sosial dalam
masyarakat yang sering susah diberantas. Apalagi, banyak faktor untuk
saling mengambil keuntungan di dalamnya.
Namun tesis susahnya pemberantasan maksiat ini rupanya terpatahkan
setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bersama Pemerintah
Provinsi Jatim sukses mengegolkan program pengentasan Wanita Tuna Susila
(WTS) belum lama ini.
Dengan dukungan pemerintah, MUI melahirkan
Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDEAL). Meski belum berjalan lama,program
mulia ini justru berjalan efektif, bahkan boleh dikata minus konflik dan
tanpa melahirkan kekerasan dan gesekan sosial.
"Tidak bisa mengentas
PSK dengan menyatakan atas nama peraturan, PSK harus pergi. Tidak bisa
hanya dilarang, dikejar-kejar, atau diikat kakinya semua, lalu dibuang.
Mereka itu manusia," kutip Gubernur Jawa Timur, Soekarwo di media, Lihat
saja, dari sekitar 3200 WTS di Dupak, Bangunsari. Kini tinggal 195
orang. November ini, rencanaya akan dipulangkan lagi sebanyak 60 orang
ke daerah asal.
Untuk melihat keberhasilan pananggulangan dan
pemberantasan prostitusi ini, "Media Ulama" mewancarai Ketua
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH. Abdusshomad Buchori, salah
satu motor utama program ini.
Baru-baru ini MUI Jawa Timur meluncurkan Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDEAL), apa maksudnya?
Pertama,
Islam mengenal perintah amar ma'ruf nahi munkar(al`amru bil-ma'ruf
wannahyu'anil-mun'kar), perintah untuk mengajak atau menganjurkan
hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.Dalil
untuk ini sudah banyak. Di antaranya dalam al Quran Surat Luqman: 17
yang berbunyi, “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia
mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar
dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”Secara
moral, tugas ulama adalah mencegah. Selain itu, usaha Amar Ma'ruf Nahi
Munkar dilakukan sesuai kemampuan. Pertama dengan tangan (kekuasaan)
jika dia adalah penguasa, dengan lisan/tulisan , minimal membencinya
dalam hati atas kemungkaran yang ada. Ini adalah selemah-lemah iman,
kata sebuah hadits.Jika tiga hal itu tidak dilakukan, seperti
dikutip hadits, maka Allah akan mengingatkan kita dengan pemimpin yang
zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita.
Naudhubillah.
Kedua, berangkat dari kesadaran bahwa berdakwah di
lokalisasi prostitusi bukan hal mudah. Karakteristik mad’u (obyek
dakwah) yang khas dan sangat berbeda dengan masyarakat umum, maka
dibutuhkan para da’i yang memiliki kemampuan khusus. . Selain harus
mampu menyampaikan materi dakwah yang menarik dan kreatif, juga harus
mudah difahami para WTS, mucikari maupun masyarakat di sekitar
lokalisasi. Proses penyadaran diharapkan membawa implikasi pada
keputusan untuk bertaubat dan meninggalkan perzinahan tersebut.Satu
contoh, bedanya jika di lokalisasi ada dai yang membina mereka. Satu
mucikari yang insyaf, di belakangnya satu gerbong WTS ikut kembali ke
jalan yang benar. Subhanallah!
Apa alasan MUI sehingga harus menjadikan sasaran WTS dan lokalisasi?
Secara
statistik, Jawa Timur memiliki jumlah penduduk sebesar 38 Juta jiwa,
dari jumlah tersebut yang beragama Islam adalah 96,76 %. Tapi sebuah
ironi, di tempat ini memiliki tempat prostitusi yang banyak dianggap
terbesar se-Asia Tenggara, Dolly.
Dengan kesadaran ini, MUI Jatim
bersama sekitar 37 ormas Islam mengadakan rapat intensif. Kami
melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dalam sebuah proses
penutupan lokalisasi – lokalisasi yang ada di Jawa Timur, termasuk
koordinasi dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten/Kota
se-Jawa Timur.
Hasilnya apa saat itu?
Hasilnya adalah rekomendasi
dari MUI Jatim dan GUIB Jatim kepada Gubernur Jawa Timur bapak Soekarwo
untuk segera melakukan proses pengentasan penghuni lokalisasi dan
mucikari secara bertahap dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat
secara serentak diseluruh kabupaten di Jawa Timur. Lalu, lahirlah
IDEAL.
Memang berapa jumlah dai IDEAL sekarang?
Untuk di Surabaya ada sekitar 55 orang da’I.
Apa sudah ada hasilnya?
Alhamdulillah,
hasilnya signifikan. Sebagai contoh, dilokalisasi Dupak Bangunsari
(Kec.Krembangan) dari jumlah WTS sebesar 274 sebelum Ramadhan kemarin,
setelah Idul Fitri tinggal hanya 195 orang dan Insyaallah bulan depan
ini (November) akan dipulangkan lagi sebanyak 60 orang ke daerah asal.
Padahal lokalisasi ini dahulu adalah terbesar di Surabaya dengan jumlah
WTS sekitar 3200 orang.
Di Banyuwangi dari jumlah WTS dan mucikari
yang ada sebelum ramadhan , sekarang sudah menurun drastis sampai 40%,
tinggal hanya kisaran 350 orang.
Lokalisasi Bok tape di kabupaten Malang juga sudah ditutup secara resmi oleh Pemerintah setempat.
Di
salah satu lokalisasi di Blitar, ada penghuni lokalisasi yang sudah
mendaftar berangkat haji. Di Lumajang dan beberapa kabupaten sudah mulai
berjalan.
Bagaimana MUI yakin mereka pulang tak beraktivitas lagi?
Kami
mengawal mereka pulang sampai ke rumah masing-masing, sebagaimana
kesepakatan dengan mereka (WTS) untuk tak lagi kembali ke tempat hina
itu. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah wilayah setempat, dari
mana WTS itu berasal. Jadi kami terus memantau mereka.Kami juga
memiliki data mereka dilengkapi foto, by name, by addres bahkan by phone
mereka.
Di Banyuwangi, dengan kebijakan pemasangan CCTV di lokalisasi untuk memberikan efek jera dan malu kepada pengunjung lokalisasi.
Apa sebenarnya target MUI dalam program ini?
Targetnya,
seluruh penghuni lokalisasi bisa dientaskan dan berharap lokalisasi
pelacuran di Jatim bisa kosong (ditutup) semuanya tanpa relokasi sampai
tahun 2014, sesuai harapan Gubernur Jatim. Tentusaja, pendekatannya
disesuaikan dengan karakteristik persoalan daerah masing-masing.Di
Surabaya menggunakan pendekatan pembinaan mental-spiritual dan
alternatif pekerjaan pasca pemulangan dan pemberian dana stimulant untuk
modal kerja.
Wah, sampai diberi pesangon segala ya?
Iya. Karena itulah kita bekerjasama dengan pemerintah. Jika MUI memberi uang dari mana alokasinya ?
Berapa pesangonnya?
Untuk
WTS sekitar Rp 3 juta. Sedang mucikarinya Rp. 10 juta. Ini semata-mata
untuk modal kerja agar bisa mencari pekerjaan pengganti lebih baik.
Apa hambatan utama program MUI dan Propinsi Jatim ini?
Karena
di Jatim antara MUI, ormas Islam, tokoh masyarakat dan pemerintah
Propinsi kita kompak, sampai saat ini belum ada hambatan.Ada riak-riak
kecil. Di Kabupaten Blitar, misalnya ada perlawanan yang dimotori
beberapa LSM lokal dengan cara menfitnah MUI, tapi tidak masalah, tujuan
kita mulia.
Siapa saja mitra MUI dalam program ini?
Dukungan
pemerintah ,baik Provinsi maupun Kabupaten /Kota-- khususnya Biro Kesra,
Dinas Sosial, Kecamatan dan kelurahan, kepolisian, Satpol PP dan DPR ,
adapun dari unsur non pemerintah adalah para da’I dari IDEAL,
ormas-ormas Islam, LSM, Tokoh Warga , Tokoh Masyarakat , media sampai
preman yang sudah tobat pun dengan senang hati membantu kita.
Di
Surabaya, kami juga bekerjasama dengan sponsor; seperti baju muslimah,
mukena dan peralatan shalat. Juga dari Majalah Suara Hidayatullah, yang
memberikan wakaf al-Quran. Ketika kami memberikan hadiah-hadiah
alat-alat ibadah ini, justru membuat mereka sadar dan menangis. Mungkin
selama ini ingin shalat tapi tak mampu. Saya kira semua pihak pasti
mendukung jika diajak.
Apa harapan Anda setelah menggulirkan program ini?
Kami
berkesimpulan, pelacuran dan mucikari bukan tidak bisa diberantas.
Bahkan sangat bisa. Sebab pada dasarnya, WTS juga manusia punya naluri
baik. Jika dijelaskan dengan cara-cara ma’ruf, mereka toh menerima juga
bahwa selama ini mereka keliru.
Karenanya, kami mengajak pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia –terutama yang memiliki
power dan kewenangan—untuk membuat kebijakan seperti ini di daerah
masing-masing.
Mochammad Yunus ( MUI Jatim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar