Kamis, 27 Oktober 2011

WTS Juga Manusia,punya naluri baik untuk bertobat

Wawancara :
Ketua MUI Jatim: KH Abdusshomad Bukhori
“WTS Juga Manusia, Punya Naluri Baik”
Pelacuran atau prostitusi adalah salah satu cerita klasik penyakit sosial dalam masyarakat yang sering susah diberantas. Apalagi, banyak faktor untuk saling mengambil keuntungan di dalamnya.
Namun tesis susahnya pemberantasan maksiat ini rupanya terpatahkan setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jatim sukses mengegolkan program pengentasan Wanita Tuna Susila (WTS) belum lama ini.
Dengan dukungan pemerintah, MUI melahirkan Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDEAL). Meski belum berjalan lama,program mulia ini justru berjalan efektif, bahkan boleh dikata minus konflik dan tanpa melahirkan kekerasan dan gesekan sosial.
"Tidak bisa mengentas PSK dengan menyatakan atas nama peraturan, PSK harus pergi. Tidak bisa hanya dilarang, dikejar-kejar, atau diikat kakinya semua, lalu dibuang. Mereka itu manusia," kutip Gubernur Jawa Timur,  Soekarwo di media, Lihat saja, dari sekitar 3200 WTS di Dupak, Bangunsari. Kini tinggal 195 orang. November ini, rencanaya akan dipulangkan lagi sebanyak 60 orang ke daerah asal.
Untuk melihat keberhasilan pananggulangan dan pemberantasan prostitusi ini, "Media Ulama"   mewancarai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH. Abdusshomad Buchori, salah satu motor utama program ini. 

Baru-baru ini MUI Jawa Timur meluncurkan Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDEAL), apa maksudnya?

Pertama, Islam mengenal perintah amar ma'ruf nahi munkar(al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar), perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.Dalil untuk ini sudah banyak. Di antaranya dalam al Quran Surat Luqman: 17 yang berbunyi, “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”Secara moral, tugas ulama adalah mencegah. Selain itu, usaha Amar Ma'ruf Nahi Munkar dilakukan sesuai kemampuan. Pertama dengan tangan (kekuasaan) jika dia adalah penguasa, dengan lisan/tulisan , minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada. Ini adalah selemah-lemah iman, kata sebuah hadits.Jika tiga hal itu tidak dilakukan, seperti dikutip hadits, maka Allah akan mengingatkan  kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita. Naudhubillah.
Kedua, berangkat dari kesadaran bahwa berdakwah di lokalisasi prostitusi bukan hal mudah. Karakteristik mad’u (obyek dakwah) yang khas dan sangat berbeda dengan  masyarakat umum, maka dibutuhkan para da’i yang memiliki kemampuan khusus. . Selain harus mampu menyampaikan materi dakwah yang menarik dan kreatif, juga harus mudah difahami para WTS, mucikari maupun masyarakat di sekitar lokalisasi. Proses penyadaran diharapkan membawa implikasi pada keputusan untuk bertaubat dan meninggalkan perzinahan tersebut.Satu contoh, bedanya jika di lokalisasi ada dai yang membina mereka. Satu mucikari yang insyaf, di belakangnya satu gerbong WTS ikut kembali ke jalan yang benar. Subhanallah!

Apa alasan MUI sehingga harus menjadikan sasaran WTS dan lokalisasi?
Secara statistik, Jawa Timur memiliki jumlah penduduk sebesar 38 Juta jiwa, dari jumlah tersebut yang beragama Islam adalah 96,76 %. Tapi sebuah ironi,  di tempat ini memiliki tempat prostitusi yang banyak dianggap terbesar se-Asia Tenggara, Dolly.
Dengan kesadaran ini, MUI Jatim bersama sekitar 37 ormas Islam mengadakan rapat intensif.  Kami melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dalam sebuah proses penutupan lokalisasi – lokalisasi yang ada di Jawa Timur, termasuk koordinasi dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.

Hasilnya apa saat itu?
Hasilnya adalah rekomendasi dari MUI Jatim dan GUIB Jatim kepada Gubernur Jawa Timur bapak Soekarwo untuk segera melakukan proses pengentasan penghuni lokalisasi dan mucikari secara bertahap dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat secara serentak diseluruh kabupaten di Jawa Timur. Lalu,  lahirlah IDEAL.

Memang berapa jumlah dai IDEAL sekarang?
Untuk di Surabaya ada sekitar 55 orang da’I. 

Apa sudah ada hasilnya?
Alhamdulillah, hasilnya signifikan. Sebagai contoh, dilokalisasi Dupak Bangunsari (Kec.Krembangan) dari jumlah WTS sebesar 274 sebelum Ramadhan kemarin, setelah Idul Fitri tinggal hanya 195 orang dan Insyaallah bulan depan ini (November) akan dipulangkan lagi sebanyak 60 orang ke daerah asal. Padahal lokalisasi ini dahulu adalah terbesar di Surabaya dengan jumlah WTS sekitar 3200 orang.
Di Banyuwangi dari jumlah WTS dan mucikari yang ada sebelum ramadhan , sekarang  sudah menurun drastis sampai 40%, tinggal hanya kisaran 350 orang.
Lokalisasi Bok tape di kabupaten Malang juga sudah ditutup secara resmi oleh Pemerintah setempat.
Di salah satu lokalisasi di Blitar, ada penghuni lokalisasi yang sudah mendaftar berangkat haji. Di Lumajang dan beberapa kabupaten sudah mulai berjalan. 

Bagaimana MUI yakin mereka pulang tak beraktivitas lagi?
Kami mengawal mereka pulang sampai ke rumah masing-masing, sebagaimana kesepakatan dengan mereka (WTS) untuk tak lagi kembali ke tempat hina itu. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah wilayah setempat, dari mana WTS itu berasal. Jadi kami terus  memantau mereka.Kami juga memiliki data mereka dilengkapi foto, by name, by addres bahkan by phone mereka.
Di Banyuwangi, dengan kebijakan pemasangan CCTV di lokalisasi untuk memberikan efek jera dan malu kepada pengunjung lokalisasi. 

Apa sebenarnya target MUI dalam program ini?
Targetnya, seluruh penghuni lokalisasi bisa dientaskan dan  berharap lokalisasi pelacuran di Jatim bisa kosong (ditutup) semuanya tanpa relokasi sampai tahun 2014, sesuai harapan Gubernur Jatim. Tentusaja, pendekatannya disesuaikan dengan karakteristik persoalan daerah masing-masing.Di Surabaya menggunakan pendekatan pembinaan mental-spiritual dan alternatif pekerjaan pasca pemulangan dan pemberian dana stimulant untuk modal kerja. 

Wah, sampai diberi pesangon segala ya?
Iya. Karena itulah kita bekerjasama dengan pemerintah. Jika MUI memberi uang dari mana alokasinya ?
Berapa pesangonnya?
Untuk WTS sekitar Rp 3 juta. Sedang mucikarinya Rp. 10 juta. Ini semata-mata untuk modal kerja agar bisa mencari pekerjaan pengganti lebih baik.

Apa hambatan utama program MUI dan Propinsi Jatim ini?
Karena di Jatim antara MUI, ormas Islam, tokoh masyarakat dan pemerintah Propinsi kita kompak, sampai saat ini belum ada hambatan.Ada riak-riak kecil. Di Kabupaten Blitar, misalnya ada perlawanan yang dimotori beberapa LSM lokal dengan cara menfitnah MUI, tapi tidak masalah, tujuan kita mulia. 

Siapa saja mitra MUI dalam program ini?
Dukungan pemerintah ,baik Provinsi maupun Kabupaten /Kota-- khususnya Biro Kesra, Dinas Sosial, Kecamatan dan kelurahan, kepolisian, Satpol PP dan DPR , adapun dari unsur non pemerintah adalah para da’I dari IDEAL, ormas-ormas Islam, LSM, Tokoh Warga , Tokoh Masyarakat , media sampai preman yang sudah tobat pun dengan senang hati membantu kita.
Di Surabaya, kami juga bekerjasama dengan sponsor; seperti baju muslimah, mukena dan peralatan shalat. Juga dari Majalah Suara Hidayatullah, yang memberikan wakaf al-Quran.  Ketika kami memberikan hadiah-hadiah alat-alat ibadah ini, justru membuat mereka sadar dan menangis. Mungkin selama ini ingin shalat tapi tak mampu. Saya kira semua pihak pasti mendukung jika diajak. 

Apa harapan Anda setelah menggulirkan program ini?
Kami berkesimpulan, pelacuran dan mucikari bukan tidak bisa diberantas. Bahkan sangat bisa. Sebab pada dasarnya, WTS juga manusia punya naluri baik. Jika dijelaskan dengan cara-cara ma’ruf, mereka toh menerima juga bahwa selama ini mereka keliru.
Karenanya, kami mengajak pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia –terutama yang memiliki power dan kewenangan—untuk membuat kebijakan seperti ini di daerah masing-masing.

Mochammad Yunus ( MUI Jatim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar